Minggu, 18 September 2016

Tadaburan

Sejenak berhenti beraktifitas dengan melakukan tadabur alam bersama kerabat pada bulan lalu di Gunung Panderman Kota Malang yang memiliki ketinggian 2045 mdpl. Berangkat ke puncak dini hari untuk mengejar sunrise mengalahkan rasa dingin dan kantuk tapi apalah daya, sampai dipuncak ternyata pukul 6 pagi, kehilangan sunrise. Alhamdulillah, masih sempat merasakan matahari terbit di atas gunung dengan diiringi suara-suara merdu burung yang berkicau, kemesrahan-kemesrahan alam yang begitu menghangatkan dalam jiwa. Sambil merenungi hadist Rosulullah yang sempat terbesit dalam hati.

Rosulullah bersabda, “jika kamu bertawakal pada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, niscaya Allah 
memberikan rejeki kepadamu sebagaimana Allah memberi rejeki kepada burung yang keluar dari sarangnya pagi-pagi dengan perut yang lapar dan kembali pada sore harinya dengan perut kekenyangan setiap hari.  Dan lenyaplah gunung-gunung penghalang dengan sebab doanya.”

Masya Allah, tiba-tiba hadist ini sangat powerfull dirasakan. Bagaimana mungkin Allah meninggalkan makhluk ciptaannya tanpa sesuatu. Pastilah Allah mengurus seluruh makhluknya memenuhi segala kebutuhannya hingga tuntas. Tetapi jika dilihat dari sudut makhluk, manusia memiliki rasa khawatir. Takut siapa jodohnya, bagaimana nasib keluarganya, apakah makan atau tidak, itulah sebesit ketakutan yang hampir setiap manusia muncul.  Apa yang akan terjadi jika Allah tidak ikut serta dalam urusan manusia? Mungki tidak akan terselesaikan segala persoalannya. Bahkan, hanya untuk mengedipkan mata jika Allah tidak ikut campur, maka mata juga tidak bisa membuka mata. Tapi semua itu terlupakan. Fokus manusia adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya nominal uang yang ada dalam buku tabungan, mendapatkan jodoh yang bagus, dan lain sebagainya.

Semangat manusia memang besar untuk mengejar rejeki  memenuhi segala kebutuhannya dengan mengejar nilai-nilai yang besar melalui proses yang baik dan ada pula yang kurang baik. Hanya mengingatkan saja, ada suatu kekuatan besar yang tak terlihat oleh manusia yaitu doa. Seringkali manusia bergerak tanpa berdoa. Luar biasanya, yang dikira tidak bisa menjadi bisa dan diluar kemampuan logika sekalipun.  
Allah menciptakan manusia dan makhluk dimuka bumi ini hanya untuk beribadah saja.  Laut, gunung, pepohonan, bahkan hewan pun berdzikir. Malu rasanya jika manusia yang diberi kemampuan bergerak dan berpikir dipergunakan untuk mengejar dunia saja tanpa memikirkan akhirat. Alangkah baiknya jika sebelum beraktifitas kita berdoa dulu pada Allah kemudian sempurnakan ikhtiar untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Terkadang apa yang ditargetkan tidak sesuai dengan kenyataan, sesungguhnya itu adalah pemberiaan Allah yang terbaik bagi hambaNya untuk terus bersyukur.


Rabu, 31 Agustus 2016

Kontrol Penuh, Kepedulian, atau Perhatian

Sungguh, kita diberikan kedudukan mulia dimuka bumi ini oleh Allah sebagai khalifah fil ardh. Beruntungah kita telah diberikan iman islam yang sangat nikmat ini terlebih lagi disertai dengan nikmat kesehatan dan waktu luang sehingga bisa menjalankan fungsi pemimpin di muka bumi ini. Setiap manusia adalah pemimpin 
dan akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Apa yang akan dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah sebagai manusia? Banyak hal. Bagi suami, akan ditanyai tentang kepemimpinan dalam rumah tangga. Direktur bertanggung jawab dengan anak buahnya dalam perusahaannya. Pimpinan negara, jabatan yang diamanahkan rakyat kepada pimpinan negara. Dari jabatan terkecil sampai amanah besar yang di tanggung semuanya ada tanggung jawabnya.

Teman saya ada selalu berkomentar melihat beberapa peristiwa di akhir-akhir ini, ada yang positif dan negatif. Akhirnya, teman saya ini yang selalu berkomentar merasa pusing dan tertekan akibat kehidupan yang dirasakan. Sebenarnya, ada beberapa cara agar orang tidak merasa tertekan dan selalu bahagia. 

Jika saya analogikan dengan orang yang naik motor dan kita sebagai pengendaranya, saya sebut itu sebagai kontrol penuh kita untuk mengendalikan laju kecepatan, rem, dan teknik mengendarai. Dan kita sangat berkuasa untuk mengemudikan dengan cara ugal-ugalan atau tertib.

Kedua, adalah kepedulian. Dimana status kita hanya mengawasi dan memberikan masukan serta mengingatkan. Saya analogikan, kita diposisi dibonceng ketika kendaraan melaju. Kita hanya bisa mengingatkan kepada sopir kita “Awas ada lubang”, “Jangan cepat-cepat”, “Belok”, “Didepan ada kendaraan” dan lain sejenisnya. Selalu mengawasi sopir untuk keselamatan bersama. Tetapi, menjadi hak sopir boleh mengambil saran yang di sampakan ataupun tidak. Posisi kita dalam kendaraan yang melaju tidak bisa mengambil alih posisi sopir secara seketika karena akan menjadi kecelakaan.

Ketiga, yaitu perhatian.  Kesempatan terbaik hanya memperhatikan dan tidak bisa berbuat banyak. Ketika ada kendaraan yang berjalan dengan kencang dan ugal-ugalan, posisi kita berada di pinggir jalan. Hanya 
menyaksikan kendaraan yang melaju dengan kencang. Mau menasehati jelas tidak mungkin apalagi marah-marah.

Jika dalam semua kasus yang terjadi kita dalam posisi kontrol penuh bisa kacaulah. hidup kita merasa sempit dan tertekan. Nah, dalam kehidupan sekarang ini harus bisa bermain peran dan menempatkan posisi kita sebagai apa. Dalam kontrol penuh, kepedulian, atau perhatian. Agar lebih bahagia dan tenang dalam menjalankan kehidupan yang penuh keberkahan ini.


25 mei 2016 @ warkop cak no bersaudara jam 8 malam